Sabtu, 13 November 2021

MENGEMAS KECEWA


Tuhan pada hari ini....

"Aku benar-benar merasakan kecewa yang teramat dengan Manusia. Bolehkah Tuhan? sepertinya aku lelah atau ini hanya lelahan karna aku terlalu kepayahan dengan skenario yang akhir-akhir ini terasa berat untuk aku perankan. Atau aku butuh liburan mungkin? oh tentu itu bukan satu-satunya solusi Astrid"

tulisan ini akan menjadi pertama kalinya terbit di blog ini terdengar seperti 'mengeluh' hihihi iya lebih baik aku menumpahkan semua pada tulisan. Kenapa? abisnya kalo di ceritakan ke sesama manusia kasian juga sesama manusia di luar sana juga punya masalah dan bebannya masing-masing. 

Rasanya...rasanya... aku merasa apakah ini Drama? lalu apakah aku sudah melampaui Klimaks dari skenario ini Tuhan? 

Setiap jalan cerita akan memiliki Klimaks yang tentunya tidak hanya satu dua bahkan tiga kali. Sama halnya saat ini, malu gak sih usia udah seperempat Abad tapi kamu masih suka menanyakan ini di isi kepala mu Astrid? 

Tuhan aku merasakan sekecewa ini dengan Manusia sangat lelah dan kecewa. Sebenarnya porsi berjuang dan ketabahan ini sampai mana yah? hehehe kok gak ada abis-abisnya. Ucapan memang tidak ada yang bisa di pegang bukan? lalu Tuhan apa ini kenapa? 

Dulu semasa kecil aku menganggap peran menjadi Dewasa itu menyenangkan karna akan ada masalah dan kesenangan yang bisa aku tumbuhkan dan aku selesaikan sendiri. Ternyata Tuhan, Astrid salah yah bilang itu hehehe 

Suka gemes aku ini harus gimana yah? ekspektasi manusia itu harus yang gimana lagi ya Tuhan? apa aku harus terus berlari dan terus berperan sesuai ekspektasi manusia? 

Iya iyaaa ini catatan aku di malam minggu yang bisa terdengar Galau bukan 

Minggu, 10 Mei 2020

Apa aku mengalami Quarter Life Crisis ?


Heiiiii Mei, salam kenal aku gadis bermata empat yang menuju seperampat abad. Hehehe tua yah deng :’)  Ga juga sih masih menuju belum di fase genap seperempat abad.
Bener ga sih di rentan seperempat abad akan banyak pertanyaan yang menyerbu.
“Dar…dar…jedug…jeduar….hahaah…..psstttt “suara petasan hahaha apa lagi aku ini. maaf hobi ketawaku masih terpupuk hingga kini.
Dari segala macam penjuru entah tentang peningkatan karir, relationship dan rencana-rencana epic versi mu atau versi mereka ? apapun itu tetap harus memilih karna ku percaya kita di lahirkan dan di ciptakan dengan Rasional dan semua adalah pertimbangan. Sejak bulan lalu tepatnya  tanggal 13 April 2020 aku di nyatakan harus memakai Kaca Mata benda aneh bagiku jika ini benar-benar untuk mata sakit. Ini juga salah satu pilihan yang harus ku paksa ambil. Kan harus memilih lagi-lagi kan.


Gambarku kini yang bermata empat.

                Segelas coklat, laptop yang baru ku adopsi bulan lalu karna Pilihan yang memaksa untuk memilih. Meja Pink yang di belikan Ayah kemarin menahan tekanan perasaan dan suara ketikan keyboard yang semakin kencang. Beberapa menit lalu, aku mulai tertekan dengan situasi ini. Quarter Life Crisis, yang sempat ku dengar ku baca dan kurasa. Tepat aku berada di Fase ini. Apa yang mendasari rasa ini sehingga aku menyatakan yang ku alami saat ini dan beberapa waktu lalu ialah Quarter Life Crisis?
“yah itu aku benar…… (dengan perasaan kacau dan nangis sesenggukan)”

Kayak apa yah, udah banyak aja gitu. Banyak nahan rasa kacau, sedih dan pertanyaan besar di kepala yang pasti ku tangguh sendiri. Sebagai anak pertama dan banyak yang menilai ku Wanita tangguh yang terbiasa menyelesaikan dengan sendiri. Tapi ku tak setangguh dan sekebal itu :’)
Sebagai anak pertama yang keras kepala. Aku suka memiliki Gols dan target untuk jangka pendek dalam hidupku. Beberapa menilai aku terlalu tangguh dan acuh dengan kesendirianku dan berjalannya waktu menuju seperempat abad. Okay kali ini,  apa hubungannya dengan Quarter Life Krisis yang ingin ku bahas sih ?
Di sinilah cerita itu aku mulai. Pernah ngak merasa terjebak dengan pilihan sendiri dan pada hari ini kamu akan bertemu dengan empat persimpangan dimana kamu harus memilih salah satu dari empat persimpangan tersebut.
“H-a-r-u-s memilih (berbicara berkali-kali harus…harus…) okay Tarik napas…”
Isi kepala dan batin sih. Yang masih ku simpan sendiri belum ingin ku ceritakan ke siapa-siapa selain dengan tulisan ini. Kuharap ada yang mau memahami :’)
Dari segi sosial, keluarga, internal pun eksternal. Ada rasa dimana kek ngerasa tuh……..
“Oh ya….permisi mau lewat dan tutup muka aja deh. Okay udah terlanjur kejebak okay mari kita jalani saja. Logikanya kayak baik Perahu dan udah terlanjur naik dengan situasi yang di suguhkan yah mau gimana lagi yaudah kita jalani mari kita lanjutkan….. (dengan perasaan beragam)”
Rencana untuk melanjutkan Sekolah okay akuu mau sekolah lagi pokoknya ini serius. Persiapan yang terus menjadi perispaan sampai hari ini dan bulan ini untuk lanjut  S-2 banyak kebagi dengan rencana-rencana lainnya kayak malu aja “ih Astrid apa sih kamu itu setengah-setengah untuk jangka panjang inget usia katanya fokus tujuan ini dan tinggalkan tujuan-tujuan lainnya”.
Dengan segala kebingungan, ku mau ambil jurusan, yang linier atau seenggaknya masih sejendre, sealiran dan sekelas dengan judul skirpsi waktu S1 lalu. Mumetlah aku dengan tahun lalu yang harus bisa lanjut sudah menentukan pilihan mana yang akan ku incar untuk jadi next Kampus. Kemudian adalagi alasan yang benar-benar aku sendiri ini jebakan Pilihan yang ku ambil :’)
Tanpa menerima penolakan dan kini harus ku tunda. Baik, bukan berati menyerah dan lelah. Tidaklah, aku hanya menunda bukan berati aku membatalkan. Semoga kelak ada yang menyemangatimaku lebih dengan satu Frekuensi Sedih sih  waktu si Ayah yang sudah menagih-nagih tiap kali “Kak segera daftar sekolah lagi ayo jangan nyerah pasti bisa…”
Yah aku nangis sekali lagi air mata tumbuh di pipi kembali….tik…tik… dengan perasaan yang tidak bisa ku jelaskan segala perasaan kesal ini tumbuh. Perjalananku semakin jauh. Tapi Manusia akan terus berkembang bukan ? yaya semua akan berkembang pasti.
Selanjutnya, lainnya ialah keterjebakan pada Rasa nyaman ku tau ini terdengar kurang wajar dan Epik, bukan di bilang tidak baik jika kita tetap bertahan di posisi merasa tertekan dengan segala beban dan you know lah apa yang di harapkan dari sebuah perusahaan selain Hasil. Bukan berate aku tidak streng hanya untuk ini aku masih memilih diam dan kupikir kembali.
Sosial media yang sering ku buka dan menjadi hiburan waktu senggang dan longgar dari riuhnya perkejaanku saat ini, ku akui menjadi dempak buruk bagi aku yang juga membandingkan pencapaian dengan orang lain. Misal ni, si A-A ih enakyah kerjanya bisa keliling dunia atau dia bisa ke pelosok negeri, wah dia banyak temen cowok asik deh, atau enakyah dia di lahirkan bak puteri sultan tanpa usaha pun semua ada di depan mata tapi saying dia tidak memiliki tujuan yang sama denganku andai dan bla….blaaa….lainnya.
Tau kah kalian, Quarter Life Crisis akan menyerang mereka di rentan usia 20 tahun s/d 30 tahun . Bisa ku bilang fase yang terjadi ialah Krisis Emosional. Yang bisa saja ia melibatkan perasaan mudah sedih, sensitife (tapi bagiku lebih perbanyak untuk berkaca bersyukur bukan menambah rasa mengeluh), meragukan diri sendiri, kurang motivasi, ketakutan, kecemasan dan mengisolasi diri bisa jadi ia ingin rehat dari segala aktivitas dan pilihan yang menjebaknya kata lain ia berhenti dari semua aktivitasnya dan memilih menyendiri untuk menenangkan diri.
Kubahas beberapa perasaanku saat ini ku ceritakan panjang lebar di sini semoga ketika mereka membaca tulisan ini ada perasaan-perasaan yang mampu ku sampaikan atau berikan aku Do’a baik untuk tujuan jangka panjangku segera Terealisasikan dan amankan kau dari perasaan nyaman yang di sibukkan dengan situasi ini. Selamat berkembang dan selamat memilih keputusan atau Keputan yang akan memilih :’)
Alih-alih semoga percakapan ku malam ini tidak seberat isi kepala.

Rabu, 05 Desember 2018

#Kegabutan ini semoga lekas berlalu



     Kali ini maafkan aku yang sesekali ingin mengunggah tulisan dengan tema terkacau sepanjang masa (wak waw terkesan alay). Baiklah mengenai tema #kegabutaninisemogalekasberlalu.
Tentang perasaan yang bercampur banyak rasa duka dan air mata dari pada bahagia. Dari mana datangnya kesedihan ? Awalnya ini hanya perasaan biasa. Oke aku masih bisa mengatasinya dan mentolerir. Lamban menaun, semakin sesak saja. Ini semakin sulit. Terkekang dan tak bebas tidak ada ruang untuk berbicara lagi seakan kehabisan "Toleran". Terus apa yang kamu lakukan ? banyak, meski hanya di lihat sederhana, tapi aku sudah banyak bergerak. Mungkin Tuhan sedang mengajak bermain ala time zone dengan hambanya kali yah. Kan pembahasanku kacau balau balau sebalau balaunya. Titik dimana ini titik terendah aku. Tahun ini semoga menjadi penutup kekacau balauan atau ah aku masih banyak ketakutan dan kata tapi yung kuat menjadi alasan jika aku di pojokkon. Semakin lama aku menulis maka semakin tidak jelas arah pembicaraan ini. Mungkin aku butuh piknik, sekedar pergi ke taman membeli cilok panas dengan saos kacang dan segelas es degan. Wasalam....,


Rabu, 06 Juni 2018

TIPS CEGAH KOLEKSI BUKUMU TAK MENGUNING



“Sebentar di pajang sesaat di baca kemudian tergeletak tak di hiraukan”.
            Sebagai salah satu penikmat buku bacaan. Aku, kamu dan kalian ada disini ? sebagai penikmat, buku memiliki arti dan peran penting dalam kehidupan (salah satunya) karna ada pepatah pintar yang berujar :

“Buku ialah Jendela Dunia”.

            Saya masih ingat, di bahan ajar Mata Kuliah “Filosofi” Bapak Dosen saya sering sekali berujar dan tak bosan hentinya mengingatkan kami sebagai Mahasiswa agar tak bosan dan pun malas mengunjugi bacaan dalam buku. Entah hanya sekedar ala-ala mebaca meluangkan waktu dengan kurun sebentar saja 5 menit misalnya. Atau bagi pecandu buku yang katanya ‘Aku tak bisa seharipun tak membaca’. Kalian termasuk yang mana ? atau termasuk golongan yang jarang membaca hanya membaca ketika ada Novel yang Hitz seantero negeri ini, maka barulah tergugah untuk membelinya.
            Rutinitas mengunjungi sebuah ruangan yang banyak menyediakan buku bacaan, dengan fasilitas yang mengutamakan bahwa kenyaman pembacalah menjadi keutamaan kami. Iyah, Perpustakaan, siapa yang tak pernah dengar istilah ini ? Ah, rasanya saya tak yakin jika belum pernah mendengar istilah ini.
Dalam perpustakaan rasanya saya tak perlu takut kehausan informasi, wawasan dan kenyamanan. Perpustakaan salah satu ruangan ter…ter…nyaman bagi sebagian orang yang mencintai kenyamana saat belajar dengan suasana hening. Perpustakaan yang biasa saya kunjungi dekat dengan tempat kos saya di Kota Malang, merupakan slaah satu referensi dan rekomen untuk di kunjungi selain pelayanan petugas perpustakaan yang ramah, area dalam perpustakaan (ruang baca) sangat nyaman sekali dan mendukung bagi pelajar, mahasiswa dan pekerja pun masyarakat umum yang ingin mebaca dan sesekali ingin mengerjakan tugas disana.
Banyaknya jumlah entah itu di perpustakaan, rumah dan ruang belajar (misalkan) saya juga sering mnjumpai warna buku yang tak cantik lagi (putih). Atau warnanya mengalami proses pemudaran misalnya ; dari warna putih menjadi kuning, atau dari warna coklat menjadi lecek dan terlihat tak terawat. Lantas bagaimana soslusinya ?


Pagi ini ada kabar gembira (Pap Para), terutama bagi saya salah satunya sebagai penikmat buku. Atau kalian juga merasa gembira hehehe…
Di lansir dari laman akun resmi @Gramediabooks (silah di cek jika berkehendak) yang membagi tips bagaimana cara merawat kondisi buku kita agar tetap terjaga warna dan kondisinya. Memang sebagian pendapat para komentar (di Laman resmi IG) jika ada yang menyukai bentuk maupun perubahan yang terjadi pada buku mereka.
“Menurut saya, buku yang berubah warna menjadi kuning justru menambah nilai klasik atau kesan bahwa buku itu cukup unik dari segi penmabilan ‘look’. Ada pula yang berbagi cara merawat buku mereka sehingga warna dan kondisinya tetap terjaga dan nampak elok seperti di rawat dengan baik. Bukan berarti jika buku itu terlihat lusuh dan berubah warna saya mengatakan itu tidak baik atau bukan-lah selera saya. Baik tapi pendapat saya pribadi, buku itu tetap harus di jaga kondisinya maupun isinya sendiri, tidak jarang pula saya juga lalai dalam memelihara bacaan saya suka sembrono, “Ah Astrid belinya aja pakai nabung masih aja suka nyempelehin, gini nih giliran sudah di tangan (terbeli) pasti kau semberono tak merawatnya…” beginilah isi kepala saya saat membaca berbagai macam komentar para Grameds (Sebutan bagi para pecinta belanja buku bacaan di Gramedia).
1.      Langkah pertama, Jauhkan dari paparan sinar matahari secara langsung. Ternyata, sinar UV bisa memberi dampak memudar pada cover buku serta kondisi kertas menjadi rapuh dan berbubah warna menguning.
2.      Hindari dari kondisi ruangan yang memiliki tingkat kelembaban tinggi, karena uap air dalam udara membuat kertas akan semakin mudah rusak, kusam dan berbubah warna ‘menguning’.
3.      Berikan sedikit ruang antara buku dan ruang untuk bagiandalam, hindari pula posisi ‘mepet’ ke tembok atapun rak.



MENGEMAS KECEWA

Tuhan pada hari ini.... "Aku benar-benar merasakan kecewa yang teramat dengan Manusia. Bolehkah Tuhan? sepertinya aku lelah atau ini ha...